MALANG, AINEWS.ID — Di tengah maraknya tren bisnis resto dan kafe modern, ada satu nama yang muncul dari sudut Dinoyo, Malang: Garry Akbar Prakaza, seorang pengusaha muda yang memulai segalanya dari warkop sederhana.
Berawal dari ide kecil untuk menciptakan tempat nongkrong murah, enak, dan merakyat, Garry mendirikan Warkop Agam. Awalnya hanya satu gerai dan beberapa meja panjang, kini Warkop Agam berkembang jadi salah satu spot tongkrongan paling ramai di kawasan kampus.
“Dulu aku cuma pengin bikin tempat nongkrong bareng temen, ngopi sambil diskusi. Nggak nyangka jadi ramai dan sekarang malah punya arah bisnis jelas,” ujar Garry saat diwawancarai, mengenang awal mula perjuangannya.
Warkop Agam Dinoyo bukan sekadar tempat ngopi, tapi juga ruang sosial anak muda Malang. Dari mahasiswa, ojol, pekerja, sampai warga sekitar, semua bisa duduk satu meja. Menu andalannya seperti Mie Bangladesh, Kopi Aceh, dan Es Teh Tarik jadi favorit pelanggan setia.
Sungguh Perjalanan Tidak Mudah,
Garry mengaku membangun usaha dari nol bukan hal gampang. Ia harus berjuang dari urusan modal kecil, perizinan usaha, sampai menjaga ritme operasional harian. Saat awal buka sempat terjadi banyak kritikan pengunjung. Tapi Garry dan timnya bertahan dengan strategi sederhana tapi efektif, yaitu menjaga loyalitas pelanggan dan pelayanan.
“Kita nggak bisa saingi kafe besar soal dekor, tapi kita punya vibes. Orang nongkrong di sini merasa kayak ‘rumah kedua’. Itu nilai yang nggak bisa dibeli,” jelasnya.
Dengan langkah yang konsisten, Garry Akbar Prakaza membuktikan bahwa bisnis besar tidak selalu harus lahir dari modal besar, tapi dari niat, konsistensi, dan keberanian mengambil langkah pertama. (Rob)
https://www.instagram.com/warkopagamdinoyo?igsh=MTZrNWpxY2tldGlqdg==






